Halaman

    Social Items

Showing posts with label Antropologi Kelas 11. Show all posts
Showing posts with label Antropologi Kelas 11. Show all posts
Bermacam Bahasa di Indonesia, Karakteristik dan Wilayahnya - Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang mendiami pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke juga  memiliki bermacam bahasa.


Bahasa-bahasa yang digunakan oleh masyarakat Indonesia sangat banyak sekali. Masing-masing bahasa tersebut memiliki karakteristik tersendiri. Berikut ini beberapa bahasa yang terdapat di Indonesia.

a. Bahasa Jawa
Sesuai dengan keadaan geofisik Pulau Jawa, maka kita dapat membedakan beberapa subdaerah linguistik yang masing-masing mengembangkan dialek-dialek bahasa Jawa yang perbedaannya antara yang satu dengan lain terlihat jelas sekali.

Di bagian barat Jawa terdapat daerah aliran Sungai Serayu yang berasal dari kompleks Pegunungan Dieng, Sundoro, Sumbing, yang mengalir ke arah barat daya sebelum akhirnya bermuara di Samudra Hindia di sebelah selatan Pulau Jawa. Orang-orang Jawa yang tinggal di daerah aliran sungai ini mengucapkan suatu dialek Banyumas yang khas, di mana vokal bawah belakang dalam bahasa Jawa umum diucapkan sebagai vokal bawah tengah yang sering kali diakhiri dengan pita suara tutup pada akhir kata.

Bermacam Bahasa di Indonesia, Karakteristik dan Wilayahnya
Peta Persebaran bahasa Austronesia.
Di daerah aliran Sungai Opak, Praga, dan hulu Sungai Bengawan Solo, di tengah-tengah komplek Gunung Merapi - Merbabu-Lawu, dipergunakan dialek Jawa Tengah Solo - Jogja. Daerah ini juga merupakan daerah pusat kebudayaan Jawa - Keraton yang dianggap sebagai daerah sumber dari nilai-nilai dan norma-norma Jawa. 

Dengan demikian, dialek Solo-Jogja juga dianggap sebagai “bahasa Jawa yang beradab”. Dalam dialek ini penggunaan bahasa Jawa dengan sistem kesembilan gaya bertingkat itu betul-betul sudah berkembang mencapai kerumitan yang luar biasa.

Di sebelah utara daerah ini terdapat dialek Jawa pesisir yang dipergunakan di kota-kota daerah pantai utara. Dialek ini tidak jauh berbeda dari dialek Solo - Jogja. Bagian barat daerah subkebudayaan pesisir sangat dipengaruhi kebudayaan dan bahasa Sunda yang tampak pada dialek Cirebon, Indramayu, Tegal, dan daerah-daerah sekitarnya.

Sebelah timur daerah subkebudayaan Jawa Tengah adalah Sungai Brantas yang juga melingkupi daerah-daerah sekitar Madiun dan Kediri di bagian baratnya, dan Kota Malang, Lumajang, dan Jember di bagian timurnya. Logat yang diucapkan di daerah itu sangat dipengaruhi oleh dialek Solo - Jogja dan bahkan mirip sekali, kecuali yang dipakai di delta Sungai Brantas, khususnya Kota Surabaya yang memiliki dialek yang sangat khas pula.

Bahasa Jawa yang dipakai di daerah pantai Jawa Timur sangat banyak terpengaruh bahasa Madura, yaitu suatu bahasa yang sama sekali berbeda dengan bahasa Jawa. Adapun bahasa yang dipergunakan di ujung timur Pulau Jawa, yaitu Banyuwangi dan Blambangan banyak dipengaruhi oleh bahasa Bali.

Di ujung sebelah barat Pulau Jawa, yaitu di sebelah barat daerah kebudayaan Sunda, terdapat daerah Banten yang menggunakan suatu logat bahasa Jawa yang khas.

Daerahnya mencakup daerah sebelah barat Kota Jakarta hingga Kota Merak, dan ke arah selatan berbatasan dengan Kota Bangka Belitung dan Pandeglang. Penduduk di daerah ini berbicara dua bahasa (bilingual), yaitu bahasa Jawa, Banten dan Bahasa Sunda, tetapi di Kota Serang, yang merupakan ibu kota daerah itu, terutama memakai bahasa Sunda.

b. Bahasa Gayo
Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi antara sesama anggota masyarakat Gayo adalah bahasa Gayo. Adapun yang kita maksudkan dengan “bahasa Gayo” pada masa ini adalah bahasa setempat yang telah mendapat pengaruh bahasa dari luar. Bahasa yang dimaksud antara lain adalah bahasa Aceh sebagai bahasa tetangga yang terdekat. Namun, bahasa luar yang paling banyak pengaruhnya adalah bahasa Indonesia.

Hal itu menjadi sangat mungkin karena memang telah mempunyai dasar yang kuat. Dari 100 kata dari daftar swadesh terdapat 41% persamaan antara bahasa Gayo dan Melayu. Dengan bahasa Karo persamaannya lebih besar lagi (46%), sedangkan dengan bahasa Aceh persamaannya lebih kecil (35%).

Pengaruh bahasa Indonesia sangat besar, karena bahasa itu telah dipergunakan di sekolah-sekolah, dalam rapat-rapat, bahkan dalam pidato adat. Pidato adat yang sebenarnya sarat dengan ungkapan-ungkapan adat, kini sedikit demi sedikit telah dimasuki oleh unsur bahasa Indonesia. Di antara unsur kata bahasa Indonesia yang cukup besar memengaruhi bahasa Gayo adalah dalam istilah kekerabatan.

Kalau biasanya setiap kerabat mempunyai istilah tersendiri, kini sudah diganti dengan istilah bahasa Indonesia. Sebagai contoh istilah Gayo untuk: ayah, saudara lakilaki ayah, saudara sepupu ayah, saudara laki-laki itu kerabat laki-laki ayah dari satu klen disebut dengan kata “bapak”. Demikian untuk kerabat-kerabat perempuan banyak yang telah diganti dengan istilah bahasa Indonesia padahal untuk kerabat-kerabat tersebut ada tutur yang khusus.

Selain bahasa sehari-hari sesungguhnya masih ada ragam bahasa dalam berbagai bentuk upacara, kesenian, dan kegiatan lainnya. Dalam pidato adat (melengkan) terungkap bahasa yang penuh dengan tamsil dan ungkapan-ungkapan yang jarang terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Tangisan-tangisan adat dalam rangka perkawinan (sebuku mungerji), bahasa dalam tangisan kematian (sebuku mate) terwujud bahasa tersendiri yang bersifat sastra.

Dalam kesenian, misalnya kesenian lidong terwujud pula bahasa yang penuh dengan puisi tersendiri. Dalam hubungan muda-mudi secara adat di mana komunikasinya berlangsung dengan bahasa pantun menunjukkan pola bahasa tersendiri pula.

c. Bahasa Tolaki
Bahasa Tolaki adalah salah satu bahasa yang tergolong dalam keluarga bahasa Bungku-laki. Di dalam keluarga bahasa itu termasuk pula bahasa Morin. Bahasa Tolaki bersama dengan bahasa Mopute, Cendawa, Meronene, dan bahasa Caiwui termasuk kelompok bahasa Bungku.

Adapun bahasa Tolaki itu sendiri mempunyai paling sedikit dua dialek, yaitu dialek bahasa Konawi dan dialek bahasa Mekongga. Bahasa Morin terdiri atas bahasa-bahasa di sekitar Danau Matana.

Penduduk yang berbahasa Tolaki sebagai cabang dari keluarga bahasa Bungku - laki yang berpusat di wilayah sekitar Danau Matana bergeser ke arah selatan di hulu Sungai Lasolo dan Konawe’cha yang mula-mula berlokasi di Andolaki, yaitu lokasi permukiman pertama orang Tolaki.

Selanjutnya bahasa ini bergeser ke timur sampai di pesisir Sungai Lasolo dan Sungai Lalindu di Kecamatan Mawewe, Tirawuta, Lambuya, Una’aha, Wawotobi, Lasolo, Sumbara, Mandonga, Kendari, Ranome’eto, Pu’unggaluku, Tinanggea, Maramo dan Wawoni’i ke selatan sampai di wilayah Kecamatan Wundulako dan Kataka dan ke barat sampai di wilayah Kecamatan Lasusua dan Pakue.


a. Karakteristik bahasa Austronesia
Bahasa Austronesia mempunyai banyak jenis. Bahasa Austronesia di Indonesia terdiri atas tiga kelompok, yaitu kelompok Malayo - Polinesia Barat, Kelompok Malayo/Polinesia Tengah, dan Halmahera Selatan - Papua Barat. (pembagian secara genealogis/keturunan).

Secara tipologis, rumpun bahasa Austronesia dibagi menjadi empat kelompok, yaitu sebagai berikut.

1. Bahasa-bahasa dengan sistem Diatesis Morfologis Tipikal Austronesia.
Kelompok ini terdiri atas sub kelompok, yaitu tipe seperti bahasa Indonesia dan tipe seperti bahasa Tagalog. Tipe seperti bahasa Indonesia digunakan di daerah: Sulawesi Tengah, Suwalesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa, Sumatera Utara, dan Kalimantan bagian utara.

2. Bahasa-bahasa dengan sistem Diatesis Campuran dengan Persesuaian Pronominal. 
Bahasa tipe ini digunakan di Sulawesi Tenggara.

3. Bahasa-bahasa Isolasi
Bahasa-bahasa isolasi digunakan di Flores dan Timor.

4. Bahasa-bahasa dengan persesuaian tanpa sistem Diatesis
Bahasa tipe ini digunakan di daerah Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara, dan Maluku Selatan.

Bahasa Austronesia digunakan di wilayah gugusan kepulauan Hawaii, Formosa, Filipina, Kepulauan Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, dan Madagaskar.

b. Karakteristik bahasa Papua
Papua mempunyai bahasa dan suku bangsa yang jumlahnya paling banyak di Indonesia. Bahasa-bahasa di Papua dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu fila bahasa-bahasa Melanesia dan fila bahasa-bahasa non Melanesia. Fila bahasa-bahasa Melanesia merupakan bagian tengah-selatan dari fila besar bahasa-bahasa Austronesia. Bahasa-bahasa non Melanesia merupakan bahasa khas Papua.

Penelitian-penelitian bahasa-bahasa Papua masih sangat terbatas. Hal itu disebabkan antara lain sebagai berikut.

1. Faktor komunikasi, karena di daerah pedalaman hampir tidak ada jalan-jalan sehingga kesulitan untuk bertemu dengan informan.
2. Faktor sosial politik, karena gabungan komunitas adat sering saling bermusuhan.
3. Faktor pantang bahasa, yaitu ada kata-kata yang tidak boleh diucapkan secara langsung (harus menggunakan sinonim).

Wilayah yang menggunakan Bahasa Papua.
1. Masyarakat Arfak, merupakan penduduk asli daerah pedalaman Manokwari di Papua bagian barat.
2. Masyarakat Dani, di lembah Baliem Papua bagian barat
3. Masyarakat Arso, di Papua bagian timur.

Demikianlah Materi Bermacam Bahasa di Indonesia, Karakteristik dan Wilayahnya, semoga bermanfaat.

Bermacam Bahasa di Indonesia, Karakteristik dan Wilayahnya

Tradisi Lisan dalam Masyarakat Setempat - Tradisi lisan adalah cerita lisan tentang suatu tempat atau tokoh yang dibuat teks kisahan dalam berbagai bentuk, seperti syair, prosa, lirik, syair bebas, dan nyanyian.


Macam-macam tradisi lisan yang terdapat dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut.

a. Cerita tentang terjadinya suatu tempat yang berbentuk syair bebas dan ditampilkan hal-hal yang tidak benar-benar terjadi.
b. Cerita rakyat mengenai seorang tokoh di suatu daerah, baik tokoh yang bersifat baik dan berjasa bagi daerahnya maupun tokoh yang bersifat buruk, jahat, dan merugikan orang lain.
c. Cerita rakyat tentang misteri/kegaiban di suatu tempat, misalnya makam seorang tokoh, goa, batu besar, dan sebagainya.


a. Asal mula gunung Tangkuban Perahu (cerita rakyat dari Jawa Barat)

Tradisi Lisan dalam Masyarakat Setempat
Menceritakan seorang laki-laki bernama Sangkuriang mencintai seorang perempuan bernama Dayang Sumbi, yang ternyata ibu kandungnya. Dayang Sumbi menolak ajakan menikah dari Sangkuriang, namun Sangkuriang terus memaksanya.

Akhirnya Dayang Sumbi bersedia menjadi istri Sangkuriang, tetapi dengan syarat Sangkuriang dapat membuatkan telaga di puncak gunung, beserta perahunya, dalam waktu semalam sebelum ayam berkokok. 

Ketika telaga hampir selesai (karena dibantu jin), Dayang Sumbi berdoa agar matahari cepat terbit dan ayam berkokok. Ternyata doa Dayang Sumbi dikabulkan. Mengetahui matahari terbit, para jin pekerja lalu menghilang sehingga telaga tidak selesai. Sangkuriang sangat marah kepada Dayang Sumbi, lalu menendang perahu sehingga perahu tertelungkup ke bumi. Perahu tersebut, kemudian menjadi sebuah gunung yang dinamakan Tangkuban Perahu.

b. Malin Kundang (cerita rakyat dari Sumatra Barat)

Menceritakan seorang janda bernama Mande Rubayah dan anak laki-lakinya bernama Malin Kundang. Mereka hidup miskin. Setelah Malin Kundang menginjak dewasa, ia merantau untuk bekerja agar kehidupannya lebih baik. Ibunya selalu mendoakan agar anaknya selalu sehat, selamat, dan mudah mencari rezeki.

Bertahun-tahun Malin Kundang tidak pulang ke rumah menemui ibunya, ternyata ia telah menikah dengan puteri seorang bangsawan yang kaya raya. Pada suatu hari Malin Kundang dengan isterinya naik kapal yang sangat bagus, kemudian mendarat di pantai dekat rumah ibunya.

Mengetahui anaknya datang ibunya sangat senang, segera memeluk erat Malin Kundang anaknya. Namun ternyata Malin Kundang tidak mengakui bahwa itu ibu kandungnya. Apalagi isterinya, berulangkali meludah di dekat ibunya dan menghina. Malin Kundang menendang ibunya sampai jatuh dan pingsan, kemudian ia naik kapal dan berlayar lagi.

Setelah ibu Malin Kundang sadar dari pingsannya, ia berdoa apabila suami isteri yang bersikap kasar tadi benar anak dan menantunya, agar mendapat balasan atas perlakuannya.

Tidak lama kemudian, cuaca yang sebelumnya cerah, berubah menjadi gelap gulita, hujan turun dengan lebat, petir menggelegar, dan ombak lautan sangat besar. Kapal yang ditumpangi Malin Kundang dan isterinya oleng dan pecah, kemudian tenggelam. Malin Kundang dan isterinya meninggal seketika. Menurut cerita, pecahan kapal dan Malin Kundang berubah menjadi batu.


Beberapa puluh tahun yang lalu keberadaan tradisi lisan terutama cerita rakyat, mempunyai peranan penting dalam kehidupan masyarakat, terlebih lagi masyarakat di pedesaan.

Peranan tradisi lisan pada masa lampau adalah sebagai hiburan dan pengetahuan. Banyak orang tua yang menceritakan/mendongengkan kepada anaknya cerita apa saja yang mereka ketahui. Mendongeng sering dilakukan pada saat akan tidur malam atau pada saat luang di siang hari.

Anak-anak sangat senang dan terkesan dengan dongeng/cerita yang mereka dapatkan dari orang tua maupun guru atautokoh masyarakat. Setelah mereka dewasa, banyak dongeng/cerita yang mereka ketahui itu disampaikan kepada anak-anaknya, sehingga cerita rakyat di suatu tempat tetap diketahui.

Namun sekarang karena ilmu pengetahuan dan teknologi sudah banyak mengalami perubahan ke arah kemajuan, peranan cerita rakyat/tradisi lisan makin surut. 

Perkembangan teknologi menyebabkan di sekitar kita banyak benda atau fasilitas yang bisa menghibur dan memberikan kemudahan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya: televisi, tape, VCD, DVD, handphone, internet, surat kabar, majalah, dan masih banyak lagi. Anak-anak Indonesia sekarang lebih mengenal cerita: Doraemon, Sponge Bob, Winnie The Pooh (yang merupakan film impor), dari pada cerita Malin Kundang dan Sangkuriang.

Melihat keadaan yang seperti itu, kita harus peduli agar tradisi lisan yang terdapat di berbagai daerah dapat tetap lestari. Upaya pelestarian tradisi lisan, antara lain melalui pengajaran di sekolah-sekolah, penayangan tradisi lisan melalui televisi, dan penulisan cerita rakyat dalam bentuk buku yang diberi gambar berwarna agar lebih menarik pembaca.

Dalam perkembangannya, tradisi lisan mencakup berbagai jenis teater yang memanfaatkan seni kata sebagai bagian penting dalam pementasannya. Jenis teater itu terdapat di berbagai daerah di Indonesia, misalnya didong (di Aceh), randai (di Minang), lenong (di Betawi), ludruk (di Jawa), patu (di Bima), tanggomo (di Gorontalo), dan mendu (di Melayu).

Di era globalisasi, dengan majunya sarana informasi ternyata mampu mengembangkan tradisi lisan dari berbagai daerah. Misalnya: wayang dan lenong.

Demikianlah Materi Tradisi Lisan dalam Masyarakat Setempat, semoga bermanfaat.

Tradisi Lisan dalam Masyarakat Setempat